Bekpekeran, telusuri jejak sejarah Kota Pekanbaru

“Rombongan dari mana ini ?,” tanya seorang bapak yang duduk dipinggir jalan kepada kami.

“Dari Pekanbaru Pak, tapi kami belum pernah ke sini,” jawab seorang teman sambil berlalu.

Mungkin Si Bapak agak heran dengan jawabannya. Tapi begitulah kenyataannya. Kami adalah serombongan warga Pekanbaru yang pagi itu tengah berkeliling di Kota Pekanbaru. Tepatnya menelusuri jejak sejarah kota yang lahir 233 tahun silam ini. Penelusuran di sekitar Kecamatan Senapelan ini diberi label Pekanbaru Heritage Walk.

 

Sabtu pagi, 11 Maret 2017 pukul tujuh lewat, lima puluhan orang berkumpul di halaman Rumah Singgah Sultan Siak. Rumah panggung bercat kuning gading dengan aksen biru ini berada dipinggir Sungai Siak, persis disamping Jembatan Siak III Pekanbaru.

Kami semangat mendengarkan penjelasan salah satu inisiator acara ini, Iwan Syawal. Bapak berkumis dan berjanggut yang mulai memutih ini, antusias menjelaskan rute yang akan dilewati. Walau sebenarnya kami sudah tak sabar lagi untuk segera memulai trip ini, hehe. Terlebih, sinar matahari pagi telah memberi pertanda bahwa akan terik di siang hari.

Peserta Pekanbaru Heritage Walk edisi perdana ini berasal dari Komunitas Backpacker Pekanbaru, Indonesia Marketing Assosiation (IMA) Pekanbaru Chapter, Komunitas Sejarah Pekanbaru, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Pekanbaru,  Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia dan dari masyarakat umum. Turut serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Fahmizal Usman.

Kami dibagi menjadi empat tim yang masing-masing mendapat satu pemandu. Dengan menyandang backpack, saya bersama teman-teman lain dari Komunitas Backpacker Pekanbaru menjadi satu tim. Kami dipandu Bayu dari Tim Pekanbaru Heritage dan Mike Agnesia, pemandu yang juga merupakan anggota Backpacker Pekanbaru.

Ini dia beberapa spot yang kami telusuri :

  • Rumah Singgah Sultan Siak. Barangkali sudah banyak yang tahu situs cagar budaya ini. Tampak jelas jika kita berada diatas jembatan Siak III Pekanbaru. Meski pada plang situs ini tertulis “Rumah Singgah Tuan Kadi”, sesungguhnya ini adalah rumah persinggahan Sultan Syarif Kasim II jika ke Pekanbaru kala itu. Rumah ini didirikan sekitar tahun 1895 oleh H. Nurdin Putih, mertua dari Tuan Kadi.

Pengunjung bisa memasuki rumah ini dan melihat foto-foto bersejarah jembatan pontoon tahun 1960. Yang menjadi salah satu ciri khas rumah-rumah saat itu adalah tersedianya bilik antara plafond dan atap rumah. Jika ada tamu yang datang, anak perempuan harus segera masuk ke ruangan tersebut. Hmmm.

 

 

  • Terminal lama Pekanbaru. Sisa terminal bercat biru yang masih berada disekitar Jembatan Siak III Pekanbaru ini, menjadi saksi bisu kesibukan bus-bus yang membawa penumpang menuju Sumatera Barat, Duri serta Dumai sekitar tahun 1950 – 1970.

 

  • Rumah Tenun Kampung Bandar. Rumah panggung ini diperkirakan dibangun pada tahun 1887. Ditempati oleh tauke Getah Karet H. Yahya dan istrinya Zainab beserta 5 orang anaknya. Rumah ini pernah dijadikan markas Tentara Nasional Indonesia di era penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera Bagian Tengah. Pada tahun 2013, rumah ini diaktifkan sebagai tempat tenun kelompok Pucuk Rebung.

“Kita menenun setiap hari dengan menggunakan tiga mesin tenun, ” ungkap Ibu Wawa, Ketua Kelompok Pucuk Rebung.

Pengunjung bisa membeli kain tenun yang diproduksi di sini mulai harga sekitar Rp 600 ribu. Namun disini juga disediakan scarf tenun seharga Rp 50 ribu yang cocok dijadikan untuk oleh-oleh.

 

  • Tugu nol km. Tugu semen yang tingginya hampir sepinggang orang dewasa ini, sebenarnya adalah patok nol km, jalan penghubung antara Pekanbaru – Bangkinang – Payakumbuh. Tugu nol km ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1920. Di patok ini tertulis Bkn dengan angka 65 dibawahnya, lalu Pb dengan angka 0 dibawahnya. Posisinya tak jauh dari Polsek Kawasan Pelabuhan Polresta Pekanbaru saat ini.

Disekitar Tugu nol km ini juga terdapat gudang Pelindo dan bekas rumah syahbandar atau pengawas keselamatan kapal dan kepala bea cukai kala itu.

 

  • Istana Hinggap / Rumah Tuan Kadi.

 

Bagi saya ini adalah spot yang cukup mengejutkan dalam penelusuran sejarah Kota Pekanbaru ini. Siapa sangka bangunan asli berarsitektur Indische ini masih berdiri kokoh di apit pemukiman warga dan sebuah sekolah di Pekanbaru saat ini. Bangunan ini berdiri pada tahun 1900-an awal. Pemiliknya adalah H. Zakaria bin Abdul Muthalib yang bergelar Tuan Kadi. penasihat kerajaan bidang agama.

 

“Jika Sultan ingin menginap di Pekanbaru, beliau akan menginap di sini, tapi jika tidak menginap biasanya hanya singgah di Rumah Singgah untuk meneruskan perjalanan ke Tapung,” jelas H Syahril Rais, suami dari salah satu cucu Tuan Kadi yang kini menempati rumah ini. Karena itulah tersedia kamar khusus untuk Sultan di rumah ini.

 

Masih terdapat sejumlah barang-barang asli di dalam bangunan ini, seperti lampu hias gantung, sepasang kursi dan sebuah meja hadiah Laksamana Raja Di Laut kepada Sultan, radio tua, dan piring keramik. Di dalam rumah terdapat kolam kecil yang sampai saat ini masih dipertahankan keberadaannya. Didepannya terdapat tiang besar yang terbuat dari besi.

 

Dibelakang Istana Hinggap ini terdapat bangunan terpisah yang dulunya ditempati oleh para prajurit pengawal raja. Namun kini bangunan tersebut telah direnovasi dan dijadikan kos-kosan.

 

Yang menarik lainnya adalah, Tuan Kadi aslinya berasal dari Asahan, Sumatera Utara. Memang Sultan Siak memilih orang-orang terbaik dari berbagai daerah untuk ditempatkan pada posisi penting di kerajaannya. Namun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.

 

 

Selain spot-spot tersebut, sepanjang penelusuran ini, masih mudah dijumpai bangunan rumah-rumah lama ataupun toko-toko dari kayu yang hingga kini masih difungsikan.

Tidak terasa sudah lebih dari 3 jam lebih penelusuran yang kami lakukan. Pas sekali spot selanjutnya yang disinggahi adalah Kedai Kopi Segar di Jalan Senapelan. Kedai kopi ini milik anak Kimteng. Kimteng sendiri merupakan pelopor kedai kopi di Pekanbaru dan kini telah memiliki banyak cabang di Pekanbaru. Bekas kedai kopi Kimteng yang pertama juga termasuk dalam penelusuran kali ini.

Sebelum bubar, kami menyebrang ke Usaha Roti Senapelan. Toko roti yang menjual roti-roti empuk ini sudah berdiri sejak tahun 1960. Wow.

Thanks to  : Pekanbaru Heritage Team

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: