Keterkaitan Ikan Kurau dan Nasib Nelayan di Bengkalis

Written By : Amel Marzain | 10 January 2014 | 17:50
 

KBR68H, Bengkalis – Masih berlangsungnya perburuan Ikan Kurau menggunakan jaring batu di perairan Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, menyebabkan populasi ikan ini terancam punah.

Penggunaan jaring yang diberi pemberat batu dengan bentangan hingga empat kilometer ini, menyebabkan rusaknya dasar perairan yang menjadi habitat Ikan Kurau.

Direktur Kelompok Advokasi Riau, Bambang Aswandi mengungkapkan, awalnya jaring batu hanya beroperasi di area 12 mil dari bibir pantai. Namun karena Ikan Kurau di area tersebut sudah habis, operasi jaring batu semakin mendekat ke pantai.

Pada tahun 2006 pemerintah Kabupaten Bengkalis telah mengeluarkan perda pelarangan operasi penangkapan ikan dengan menggunakan jaring batu di wilayah 0 hingga 4 mil dari bibir pantai, namun hingga saat ini kegiatan jaring batu masih berlangsung di wilayah tersebut.

“Dari 0 sampai 4 mil adalah wilayah kabupaten, 4 sampai 12 mil adalah wilayah provinsi. Tapi sampai sekarang yang ada hanya perda di tingkat kabupaten, pihak provinsi belum mengeluarkan perda. Namun faktanya pada wilayah 0 sampai 4 mil, operasi jaring batu justru semakin banyak saat ini karena di wilayah 4 sampai 12 mil, dan dari 12 mil sampai perbatasan itu ikannya sudah berkurang,” ungkap Bambang.

Menurut Bambang, kondisi ini merupakan bentuk keserakahan pengusaha jaring batu yang hanya mengambil keuntungan tanpa memperhatikan kelestarian ekosistem ikan, karena Ikan Kurau ini termasuk ikan ekspor dan mempunyai harga jual tinggi yang mencapai Rp 300 ribu per kilo gram di pasar Singapura dan Malaysia.

Nasib Nelayan Tradisional Turut Terancam

Beroperasinya jaring batu di wilayah 0 hingga 4 mil dari bibir pantai perairan Bengkalis, selain menyebabkan terancamnya populasi Ikan Kurau juga membuat nasib nelayan tradisional turut terancam.

Ketua Serikat Nelayan Kecamatan Bantan, Abu Samah menyebutkan keberadaan pengusaha jaring batu telah membuat nelayan tradisional kesulitan dalam mencari ikan. Akibatnya banyak nelayan yang memilih untuk menjadi TKI ke Malaysia. Selain itu karena hasil tangkapan ikan jaring batu dijual ke luar negeri, warga setempat juga mengaku kesulitan mendapatkan ikan untuk dikonsumsi.

Abu Samah menilai adanya pembiaran dari pemerintah setempat terhadap kegiatan operasi jaring batu yang telah melanggar aturan tersebut.

“Harapan kami, bagaimana pemerintah di lapangan menegakkan aturan dan menindak pelaku, karena ini ilegal. Yang kedua kami berharap pemerintah merehabilitasi perairan dengan tujuan agar sisa ikan yang masih ada tetap lestari, salah satunya dengan membuat rumpun-rumpun dasar sebagai habitat ikan,” jelas Abu Samah.

Abu Samah menambahkan, konflik antara nelayan tradisional dengan pengusaha jaring batu sudah dimulai sejak tahun 1983. Namun hingga kini konflik tersebut belum berkesudahan. Bahkan pada tahun 2003 sempat terjadi perang terbuka antara nelayan tradisional dengan pengusaha jaring batu yang diikuti aksi membakar kapal.

http://www.portalkbr.com/nusantara/acehdansumatera/3089659_5514.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: