DARI FULL SERVICE HINGGA FULL KARAT

Pada Minggu pagi, 6 Oktober saya mendapat sms dari Staf Media Buying KantorBerita Radio  – KBR 68 H, Puspo Asri yang menginformasikan tentang tiket pesawat dan info penginapan. Detail mengenai informasi ini telah dikirimkan melalui email, menyusul undangan Pelatihan Pengembangan Website Radio yang dilaksanakan oleh PortalKBR pada tanggal 8 hingga 9 Oktober 2013 di Jakarta.

Pada eTicket yang dikirim melalui email tersebut tercantum bahwa penerbangan saya dari Bandara Sultan Kasim II Pekanbaru menuju Bandara Internasional  Soekarno Hatta  Jakarta, dilaksanakan pada hari Senin 7 Oktober 2013 jam 12.05 Wib menggunakan pesawat Lion Air. Namun selang beberapa jam, saya kembali menerima sms dari Mbak Puspo bahwa terjadi perubahan waktu keberangkatan yang semula jam 12.05 wib menjadi 11.45 wib. Menurut saya keberangkatan lebih cepat 20 menit ini, merupakan hal biasa.

Batik itu Asli Indonesia

Sampai di bandara, menuju counter check-in baru saya tahu bahwa ternyata tidak hanya jam penerbangan yang berubah, namun maskapai yang digunakan juga berubah, yang semula Lion Air menjadi Batik Air.

Saya cukup senang dengan perubahan ini, mengingat saya belum pernah terbang menggunakan pesawat yang merupakan anak perusahaan Lion Air tersebut. Apalagi peluncuran pesawat dengan pelayanan full service ini cukup menyita perhatian masyarakat pada Mei lalu.

Sambil berjalan memasuki pesawat, saya sempatkan mengambil gambar pada bagian badan yang bertuliskan kata “Batik” serta bagian ekor pesawat yang berhiaskan ukiran batik khas Indonesia tersebut.

Image

Masuk ke dalam pesawat, penumpang juga disambut oleh pramugari cantik khas Indonesia yang juga mengenakan rok bermotif batik dan dipadu dengan baju kebaya dengan design minimalis namun modern. Duduk di pesawat, setelah mengenakan sabuk pengaman dan mematikan handphone saya membaca majalah Batik Air, yang isinya juga ternyata banyak menampilkan foto dan ulasan mengenai Batik.

Sejurus saya merasa beruntung bisa menggunakan maskapai Batik Air ini. Saya yang notabene adalah orang Indonesia merasa ada sesuatu yang berbeda menggunakan Batik Air ini. Nah bagaimana jika penumpangnya adalah orang asing? Menurut saya tentu orang asing akan lebih terkesan dengan nuansa Batik yang dibangun, dan ini menjadi salah satu cara yang sangat ampuh dalam memperkenalkan Batik sebagai budaya asli Indonesia tersebut kepada dunia luar. Mengingat beberapa upaya yang dilakukan Negara tetangga yang sempat mengklaim sejumlah budaya asli Indonesia, sebagai budaya Negaranya.

Menggunakan motif Batik pada maskapai penerbangan bagi saya merupakan salah satu langkah kreatif dalam menjaga kelestarian Batik, selain dengan penetapan hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober sejak empat tahun terakhir.  Namun tidak hanya kepada dunia luar, pemahaman bahwa Batik adalah budaya asli Indonesia dan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia ini, juga perlu ditanamkan kepada generasi muda.

Hal ini seperti yang dilakukan Malaysia terhadap lagu Rasa Sayange yang sering terdengar dalam film kartun Upin Ipin yang digemari anak-anak Indonesia. Lagu Rasa Sayange ini juga menjadi backsound pada game  Kopi Tiam yang saat ini sedang digandrungi generasi penerus Indonesia.

‘Himbauan’ di Bus Damri

Setelah melakukan penerbangan sekitar satu setengah jam, roda Batik Air akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Soekarno Hatta. Sesuai petunjuk yang diberikan panitia, untuk menuju Hotel Rakacia tempat peserta pelatihan menginap, saya harus naik Bus DAMRI dengan tujuan terminal Rawamangun, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bajaj ke hotel.

Setelah bertanya pada pusat informasi, saya keluar dari bandara menuju tempat pembelian tiket Bus Damri. Saya diberitahu petugas tiket bahwa Bus DAMRI ke Terminal Rawamangun baru saja lewat, dan saya harus menunggu bus berikutnya sekitar 30 menit. Saya setuju dan membayar harga tiket sebesar Rp 30 ribu rupiah. Beruntung saya dapat tempat duduk sambil menunggu kedatangan bus, karena menyandang ransel berisi laptop cukup membuat bahu saya pegal.

Tak lama berselang, sejumlah Bus DAMRI dengan berbagai tujuan seperti Blok M, Kampong Melayu dan lain-lain secara bergantian datang. Namun yang menarik perhatian saya adalah terpampangnya foto berukuran besar Menteri Perdagangan Indonesia Gita Wiryawan di dinding bagian samping atas di setiap Bus DAMRI. Di samping foto tersebut tertulis jelas kalimat ‘Pakai Produk Dalam Negeri Awali Dari Kita’.  Selain maksud memberi himbauan kepada masyarakat, perkiraan saya ini adalah salah satu strategi Menteri Gita untuk mengenalkan wajahnya kepada masyarakat.

Sebagaimana kita ketahui, sejumlah pihak baik perorangan maupun partai mulai mengenalkan diri kepada masyarakat dengan berbagai cara sebagai persiapan Pemilu Presiden tahun 2014. Bahkan ada yang mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk memasang iklan di berbagai media. Yang memiliki media sendiri mungkin biaya iklan bisa diminimalisir, yang memiliki dana besar masih bisa membayar iklan di berbagai media.

Namun yang menarik bagi saya adalah apa yang dilakukan Gubernur  Jakarta Jokowi. Seorang gubernur  fenomenal yang berani melakukan berbagai terobosan dalam menjalankan tugasnya. Sehingga apa-apa yang dilakukan Jokowi selalu menarik perhatian awak media. Hampir setiap hari kita bisa melihat wajah Jokowi wara wiri di media, baik elektronik maupun cetak, baik nasional bahkan media lokal. Alhasil bisa dikatakan, siapa sih yang tak kenal Jokowi?

Mungkin saking seriusnya merenungkan hal ini saya tidak mendengar ketika petugas Bus DAMRI berteriak “Rawamangun Rawamangun Rawamangun!”. Saya ketinggalan Bus DAMRI menuju Rawamangun! dan yah saya harus menunggu sekitar 30 menit lagi untuk Bus DAMRI berikutnya.

Ternyata tidak hanya di dinding Bus DAMRI ‘himbauan’ dari Kementrian Perdagangan RI tersebut. Di dalam Bus DAMRI setiap jok juga telah diberi sarung dengan ‘himbauan’ yang sama. Duduk di dalam bus, saya mencoba menikmati perjalanan dengan mencium aroma yang kurang sedap sambil ditemani wajah sumringah Pak Menteri Gita.

Image

Bajaj dan Sopirnya yang Menua Bersama

Sekitar 45 menit, saya sampai di terminal Rawamangun Jakarta Timur. Turun dari bus saya langsung menuju bajaj yang sedang berjejer di luar terminal. Saya menanyakan ongkos dari terminal menuju Hotel Rakacia yang berlokasi di Jalan Pemuda kepada sopir Bajaj.

“Dua puluh lima ribu,” kata sopir Bajaj

“Lima belas ribu,” kata saya

“Dua puluh ribu,” kata sopir Bajaj

“Lima belas ribu,” tegas saya.

“Tambah dua ribu lagi deh,” tawar sopir bajaj lagi.

“Lima belas ribu,” tegas saya lagi sambil bergerak jalan menuju bajaj lain.

Tak mau kehilangan penumpang akhirnya sopir bajaj setuju dan membuka pintu bajaj untuk saya. Saya menaruh ransel terlebih dahulu di jok yang telah robek di salah satu sudutnya. Moda transportasi berwarna oranye lusuh yang tak mampu menutupi karatnya ini mulai mengeluarkan suara berisik khas mesin bajaj. Ya bajaj yang masih dipertahankan di Jakarta ini tampak semakin tua bersama sopirnya yang tidak bisa dikatakan muda lagi. Terlihat kontras dengan taxi yang juga banyak berseliweran di Ibukota ini.

Image

Hanya sekitar sepuluh menit saya sampai di Hotel Rakacia. Saya segera merebahkan badan di kamar 203, menunggu teman sekamar yang menurut resepsionis hotel  berasal dari Kalimantan Selatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: